KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS
MEMBANGUN MASA DEPAN DENGAN
INVESTASI REKSADANA
DI SUSUN OLEH :
NAMA : RIZKI FIRMANSYAH
NIM : 14.01.3395
JURUSAN : D3 TI 02
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
AMIKOM YOGYAKARTA
2015
BAB I
ABSTRAK
Dalam karya ilmiah ini saya membahas tentang “Membangun Masa Depan Dengan
Insvestasi Reksadana” yang bertujuan untuk menyelesaikan Tugas Akhir Lingkungan
Bisnis yang merupakan salah satu mata kuliah wajib semester II di STMIK AMIKOM
Yogyakarta. Di samping itu juga untuk memberikan alternatif peluang bisnis baru
bagi para mahasiswa yang ingin kuliah sambil berwirausaha tapi bingung untuk
dapat modal darimana, padahal keadaanya belum bekerja dan berpenghasilan.
Sehingga kebanyakan motivasi untuk berwirausaha jadi terhenti. Padahal
berwirausaha berpotensi besar untuk mengurangi pengangguran sebagai salah satu
masalah terbesar bangsa Indonesia.
Maka dari itu Investasi Reksadana ini sangat cocok untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut. Dikarenakan daya tarik utama Reksadana pada masa sekarang ini jauh
lebih mudah dalam bertransaksi dengan biaya yang relatif murah dan tingkat
keuntungan yang jauh melebihi tabungan dan deposito, serta dapat berjalan dalam
jangka waktu yang lama. Sehingga tak perlu pusing lagi memikirkan tentang modal
usaha untuk berwirausaha selain bisa
sebagai tabungan cadangan untuk kehidupan di masa depan.
BAB II
ISI
Bagaimana cara investasi
reksadana? Apakah menguntungkan untuk masa depan?
Reksadana
jelas merupakan pilihan baik untuk mulai berinvestasi di pasar modal dengan
mudah tanpa harus mencari modal besar. Saking mudahnya Reksadana telah menjadi
pilihan investasi populer berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, petani, ibu
rumah tangga, karyawan swasta, PNS, sampai pengusaha besar. Daya tarik utama
Reksadana tentulah karena kemudahan bertransaksi dan tingkat keuntungan
(return) yang jauh melebihi tabungan dan deposito.
Reksadana
pada dasarnya merupakan media investasi kolektif. Dikatakan kolektif karena
uang masyarakat dikumpulkan secara kolektif oleh perusahaan pengelola investasi
(Manajer Investasi – MI). Uang Anda kemudian ditanamkan tidak ke dalam satu
saham saja tetapi sejumlah instrument investasi (saham, deposito, obligasi dll)
pada berbagai perusahaan dan bisnis yang berbeda pula yang secara kolektif
bergabung dalam aneka produk reksadana. Masing-masing produk reksadana memiliki
beberapa tempat berinvestasi yang berbeda, sesuai jenis produk tersebut.
Menabung, Reksadana atau Beli Saham
Sendiri?
Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya, menabung saat ini tidaklah menarik untuk tujuan
investasi karena tingkat pengembalian (return) yang rendah, bahkan lebih rendah
dari rata-rata inflasi tahunan. Sementara untuk bertransaksi saham, tidak semua
orang memahami atau mampu. Walau investasi saham menjanjikan keuntungan tinggi,
tetapi harus dipahami juga bahwa potensi keuntungan yang tinggi disertai resiko
yang tinggi pula. Nasib investasi Anda ditentukan oleh nasib perusahaan yang
Anda beli sahamnya.
Sementara
dalam investasi reksadana, potensi keuntungan mungkin tidak sebesar keuntungan
membeli saham langsung. Akan tetapi potensi resiko juga tidak terlalu besar
karena investasi sekecil apapun, ditanamkan dalam berbagai instrument investasi
yang berbeda. Misalkan produk investasi yang anda beli menanamkan dananya di 5
perusahaan yang berbeda, maka ketika nilai saham salah satu 1 atau 2 perusahaan
diantaranya turun, anda tidak perlu terlalu kuatir karena kemungkinan nilai “saham”
anda di 3 perusahaan lainnya tetap atau malah naik.
Selain itu,
reksadana memungkinkan Anda mulai berinvestasi saham dengan nilai nominal
kecil. Dulu membuka investasi reksadana diperlukan dana besar. Akan tetapi saat
ini, dengan Rp250ribu, anda sudah bisa mulai berinvestasi reksadana.
Jenis-jenis Reksadana
Selain pertimbangan potensi keuntungan, anda sebaiknya
mengenal potensi resiko berdasarkan kategori reksadana. Secara umum terdapat 4
jenis reksadana. Keempatnya dibedakan atas komposisi tempat menanamkan uang
yang dikumpulkan dari masyarakat. Jenis reksadana juga sekaligus menggambarkan
potensi keuntungan dan resikonya.
1.
Reksadana Pasar Uang (RDPU).
Reksadana jenis ini merupakan reksadana dengan resiko terendah karena
penempatan dana investasi juga memilih media pasar uang yang relative stabil
seperti deposito dan surat utang dibawah 1 tahun. Tingkat pengembaliannya cukup
kecil sekitar 7% setahun. Karenanya produk ini biasanya dilakukan oleh mereka
yang ingin berinvestasi jangka pendek (kurang dari 5 tahun).
2.
Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT).
Potensi keuntungan reksadana ini sedikit lebih tinggi dibandingkan RDPU, yaitu
sekitar 10% per tahun dengan asumsi investasi jangka menengah (sekitar 3 tahun).
Demikian juga resikonya sedikit lebih tinggi karena investasi umumnya
ditanamkan dalam Surat Utang Negara (SUN) obligasi (pemerintah maupun swasta).
3.
Reksadana Campuran (RDC).
Reksadana ini disebut campuran karena dana masyarakat diinvestasikan dalam saham
dan obligasi. Biasanya investasi ini cocok bagi mereka yang ingin berinvestasi
saham tetapi masih belum berani melihat fluktuasi saham yang naik turun, kadang
bikin jantungan. Karenanya banyak yang menyarankan bahwa reksadana campuran
cocok untuk tujuan investasi jangka menengah (3 – 5 tahun). Meskipun demikian
potensi pengembalian RDC bisa mencapai 20% pertahun dengan asumsi investasi
jangka panjang (lebih 10 tahun).
4.
Reksadana Saham (RDS). Ini
merupakan jenis produk reksadana dengan potensi keuntungan yang sangat tinggi,
di atas 20% setahun (jangka waktu investasi >10 tahun). Akan tetapi
resikonya juga cukup besar sesuai dengan fluktuasi saham. Bagi Anda yang berani
mengambil resiko dan mengharapkan keuntungan besar, disinilah letak investasi
Anda. Walaupun RDS diinvestasikan dalam saham, resikonya tetap lebih rendah
dibandingkan jika membeli saham perusahaan langsung. Karena sekali lagi produk
reksadana, dalam hal ini RDS, menginvestasikan uang nasabah dalam sejumlah
saham perusahaan yang berbeda, bukan hanya 1 perusahaan.
Lalu mengapa reksadana begitu menarik?
Ada beberapa alasan yang membuat reksadana cocok
menjadi pilihan investasi semua orang :
1.
Modal kecil. Dengan Rp250 ribu saja Anda sudah bisa
membuka investasi reksadana. Selanjutnya anda bisa menambah dan memperbesar
investasi Anda mulai Rp100 ribu. Dengan modal sekecil ini, siapapun bisa
memiliki investasi reksadana, termasuk ibu rumah tangga, mahasiswa, PNS,
karyawan, artis, sampai kalangan profesional.
2.
Reksadana memberi potensi hasil yang tinggi dalam
jangka panjang sehingga sangat cocok untuk menjadi instrumen mempersiapkan masa
pensiun.
3.
Reksadana hampir mirip dengan tabungan sehingga mudah
dicairkan setiap saat. Uang akan masuk ke rekening bank investator maksimum 7
hari kerja sejak penarikan.
4.
Reksadana dikelola oleh pihak profesional.
Berinvestasi reksadana berarti menanamkan duit dalam usaha-usaha produktif,
sebagiamana layaknya berinvestasi saham, obligasi dan sebagainya. Hanya saja, anda
tidak perlu repot menganalisa pasar, membaca potensi bisnis dan sebagainya.
Semua itu dilakukan oleh manajer investasi yang legal dan berizin resmi selaku
pengelola dana anda.
5.
Perkembangan investasi mudah dipantau dari manapun.
Cukup dengan membuka internet, Anda dapat melihat naik turunnya investasi
reksadana anda. Hal ini tentu sangat baik bagi PNS atau karyawan yang sering
berpindah tugas. Investasi dapat dilakukan dan dipantau dari segala pelosok.
6.
Resiko lebih tersebar karena dana investasi tidak
ditanamkan di satu perusahaan saja, melainkan di sejumlah perusahaan, sesuai
kebijakan investasi produk reksadana tersebut. Dengan demikian penurunan nilai
saham suatu perusahaan misalnya, tidak akan terlalu mempengaruhi nilai
investasi kita karena bisa saja perusahan lainnya justru megalami kenaikan
nilai saham.
7.
Lebih aman karena selain dikelola profesional, dana
investasi tidak dipegang langsung oleh perusahaan manajer investasi melainkan
dititipkan di rekening bank khusus, yang disebut bank kustodian. Uang ini pun
tidak dicatat sebagai asset perusahaan manajer investasi ataupun bank
kustodian, sehingga jika perusahaan atau bank tersebut bangkrut, uang investor
tetap aman.
Bagaimana Memantau Perkembangan
Investasi Saya?
Nilai reksadana
dinyatakan dalam poin dan NAV (net asset value) / NAB (nilai asset bersih).
Sebuah produk reksadana yang baru diluncurkan umumnya memiliki harga
Rp1.000/poin. Jika Anda punya Rp1 juta, berarti anda bisa membeli 1000 poin.
Tetapi bila harga produk tersebut sudah Rp1.500, tentu anda hanya bisa membeli
666,67 poin.
Keuntungan
Anda nantinya dihitung dari naik turunnya nilai poin ini. Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa belilah Reksadana selagi murah (baru diluncurkan, atau
karena harga saham lagi anjlok), dan jual pada saat NAV/NAB-nya sudah tinggi.
Pergerakan NAV/NAB diawasi oleh berbagai pihak antara lain Bapepam LK dan Bank
Indonesia, sehingga anda tidak perlu kuatir keuntungan anda dimanipulasi.
Anda dapat
melihat perkembangan NAB atau NAV, yaitu harga setiap poin reksadana anda di
media massa ekonomi seperti Bisnis Indonesia setiap hari, atau secara online di
website masing-masing MI. Biasanya investor pun akan menerima laporan
perkembangan investasi Anda setiap bulan melalui surat, disertai informasi dan
analisis perkembangan ekonomi dan bisnis.
Beberapa
Hal yang Perlu Anda Ingat:
1. Bisnis reksadana disarankan untuk investasi minimal 3
tahun agar anda bisa menikmati imbal hasil yang lebih baik. Jika Anda
membutuhkan dana dalam jangka waktu setahun, sebaiknya didepositokan saja.
2. Tanyakan seluruh biaya-biaya yang timbul dari produk yang
Anda minati. Misalnya biaya saat pembelian atau penjualan investasi anda.
Masing-masing produk memberikan tarif biaya yang berbeda, sekitar 0 – 2%.
3. Sebagaimana halnya memilih penasehat keuangan (Financial
Advisor), pilihlah Manajemen Investasi yang terpercaya.
4. Bisnis reksadana dijalankan dengan profesional dan tidak
boleh menjanjikan imbal hasil (return) yang pasti. Berhati-hatilah jika ada
yang menjamin keuntungan yang tinggi.
BAB III
PENUTUP
Referensi

0 komentar:
Posting Komentar